Karyawan Produksi Motor Listrik MBG Ngaku Syok Usai Disegel Kejagung RI
BOGOR RESPONS - Kejaksaan Agung RI dikabarkan telah menyegel sebanyak 21.801 unit motor listrik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi oleh Emmo Electric Mobility.
Pabrik tersebut berlokasi di kawasan industri Jl. Olympic Raya Kav. B7, Desa Sentul, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.
Penyegelan ribuan unit motor listrik yang dipimpin oleh Penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Syarief Sulaeman Nahdi itu merupakan buntut kasus korupsi mantan pejabat Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, yang diduga merugikan negara hingga ratusan triliun rupiah.
“Kunjungan ini untuk mengecek jumlah unit sepeda motor listrik dan menyegel,” kata Syarief Sulaeman Nahdi kepada wartawan di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Penyegelan Bertahap di Gudang Produksi
Syarief menuturkan bahwa proses pengecekan dan pemeriksaan tidak akan berhenti di satu titik saja. Penyegelan akan terus dilakukan secara bertahap di gudang-gudang penyimpanan sepeda motor listrik lainnya yang terindikasi terkait dengan aliran proyek tersebut.
Langkah tegas ini diambil guna mengamankan aset yang menjadi objek perkara dalam skandal korupsi skala besar ini.
Aroma Korupsi dan Vendor Bodong Rp1 Triliun
Berdasarkan data penyidikan, proyek yang diduga kuat diselewengkan ini mencakup pengadaan motor listrik sebanyak 21.801 unit dengan nilai total anggaran fantastis sebesar Rp1,035 triliun.
Uang negara tersebut diketahui telah mengalir dan dibayarkan ke PT YAT. Vendor ini ditengarai tidak memenuhi syarat karena tidak memiliki diler atau bengkel aktif, serta terindikasi melakukan penggelembungan harga (mark up) demi meraup keuntungan pribadi.
Dampak Psikologis Karyawan di Tengah Operasional
Di lokasi berbeda, salah satu pegawai Emmo Electric Mobility yang enggan disebutkan namanya, membenarkan adanya kedatangan sejumlah petugas dari Kejaksaan Agung RI pada Rabu (17/6/2026) kemarin. Meski suasana mencekam, ia mengaku aktivitas pabrik masih berjalan.
“Memang sempat ada (kunjungan), tapi sampai saat ini kita belum bisa memberikan keterangan kepada publik,” ucapnya, Kamis (18/6/2026).
Ia menambahkan bahwa manajemen meminta awak media untuk menghormati privasi pekerja di area dalam pabrik.
“Ya aktivitas masih beroperasional seperti biasa, dan untuk pengambilan gambar di depan saja, jangan ke dalam. Soalnya ada karyawan yang terganggu psikologisnya pasca-kejadian kemarin,” pungkasnya. (A)
Related Articles